Sapulebu (Jin Sadewa) DITYA SAPULEBU (JIN SADEWA) menurut cerita pedalangan Jawa adalah jin raksasa dari kesatrian Baweratalun, wilayah negara Mertani, sebuah kerajaan siluman yang dalam penglihatan mata biasa merupakan hutan belantara yang sangat angker. Ia mempunyai saudara kembar bernama Ditya Sapujagad yang tinggal di kesatrian Sawojajar. wayang kulit purwa (Wahyudi dalam Haryono, 2009 : 53). Wayang Purwa merupakan karya seni yang bisa mengikuti perkembangan zaman. Wayang sekarang tetap berbeda dengan wayang zaman dulu namun setiap perubahannya tidak mempengaruhi jati dirinya. Kesenian wayang tetap menjadi tontonan yang Cakra berarti sebuah bentuk lingkaran, sebuah kesinambun, keserasian. Batara Cakra adalah seorang bangsa Dewa yang selalu memperhatikan keserasian, kesetimbangan, dan kesinambungan kehidupan di dunia wayang. Batara Cakra adalah dewa yang menguasai hampir seluruh seluk-beluk yang ada dan terjadi di Tribuana, yaitu jagad Mayapada (Dunia Kedewaan Ana ing kelurahan dalang kang sakmestine dadi paggowo cerita wayang wis siap kanti di iringi gamelan kang suwarane gembleger ana ing kuping. Para wiyaga pada nabuh gending, gong, gamelan, ugo tabuhan liyane kang aku dewe ora paham opo jenenge. Pandhawa Lima adalah karakter-karakter cerita Pewayangan Jawa yang sangat terkenal. Pandhawa Lima terdiri dari Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Setiap tokoh Pandhawa memiliki karakter yang nilai-nilainya dapat kita petik sebagai teladan. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Sedangkan Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga ahli dalam ilmu astronomi. Dalam cerita Wayang kulit / Purwa, kelima ksatria Pandawa pada masa akhir hidupnya melakukan perjalanan suci ke gunung. Disana mereka mati mukswa dan arwahnya mencapai surga.*** KNFq.

cerita wayang nakula bahasa jawa